Archive | November 2014

Siapa yang Membunuh Siapa? Part-3

Aku ingin bertanya apa maksud gelengan itu, namun aku tak sempat.

***

“kyaaaa!!” aku memekik, terkejut karena polisi sudah datang dan berada di atap. Aku memang bodoh! Bagaimana bisa aku lupa bahwa diatap ada dua pintu? Aku lari sekencang-kencangnya menuju pagar pembatas, lalu memanjatnya dengan mudah. Aku kan jago olahraga.

Aku pun terjun. Selamat tinggal, dunia!

***

“Joanna? Joanna! Astaga! Syukurlah kau baik-baik saja!”

Entah datang dari mana, paman dan bibiku sudah muncul disini, di depanku. Mereka membuat pria bersuara berat yang baik hati itu menyingkir. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya, dan berlalu pergi entah kemana. Bibi langsung memelukku erat, membuat aroma parfumnya yang menyengat merasuki hidungku. Paman hanya berdiri di sebelah bibi dengan tatapan khawatir. Sedangkan aku merasa sedih ditinggalkan dia.

“Joanna.. Malang sekali nasibmu, nak!” ujar bibi disela-sela tangisnya, “aku kira aku tak dapat melihatmu lagi..” Bibi mulai menangis tersedu-sedu, membuat bagian bahu bajuku basah.

Paman berkata sesuatu pada bibi yang dibalaskan anggukan oleh bibi. Aku tak mendengar apa yang dikatakannya, namun dari gerak bibirnya, paman berkata bahwa ia akan mengecek situasi dulu. Toh itu memang pekerjaannya sebagai seorang polisi.

***

“Berhenti!!!”

Oh? Bagaimana ini? Rasanya aku berada di ambang kematian dan kehidupan. Kakiku sudah melayang, tubuhku juga. Namun ada sesuatu yang menahanku. Tangan seseorang! Ya, tangan polisi yang mengejarku. Ia dengan dibantu oleh beberapa teman polisinya, atau mungkin anak buahnya, menarik bajuku dengan kuat. Aku tak jadi mati. Aku tak tahu apakah aku harus sedih atau harus senang. Yang jelas, aku tak jadi mati.

“Argh!” jeritku kesakitan. Mereka menarikku seperti menarik karung beras, tanpa perasaan ataupun kelembutan. Mereka kemudian juga membantingku begitu saja. Oh? Mereka malah langsung memborgolku! Bukankah mereka seharusnya bertanya bagaimana keadaanku  seperti pria bersuara berat waktu itu?

Aku langsung mereka paksa berdiri dan ditarik menuju lantai dasar. Kemudian, memasukkanku ke mobil polisi yang bersirene dan berlampu merah-biru seperti 5 tahun yang lalu. Semua ini seperti deja vu.

***

Bibi terus saja memegang erat tanganku. Ia menemaniku duduk di belakang ambulan. Aku hanya terdiam, namun mataku juga mencari-cari dimana pria bersuara berat tadi. Dengan seragam medisnya yang berwarna putih, aku mendapat kesulitan mencarinya.

Paman kemudian kembali dengan wajah kusut dan menggelengkan kepala lemah. Bibi langsung menangis lagi, kali ini ia bahkan memeluk paman. Faktanya, paman adalah adiknya ayah, dan bibi adalah sahabatnya ayah. Mereka berdua sangat menyayangiku, aku yakin akan itu. Aku ingin bertanya apa maksud gelengan itu, namun aku tak sempat.

“itu dia..” ujar paman kemudian. Aku mengikuti arah pandangan paman dan melihat beberapa orang berseragam medis tengah mengangkat suatu tandu, bukan, tapi dua tandu. Diatasnya terdapat sesuatu yang ditutupi kain putih. Jangan bilang itu adalah orangtuaku. Bibi semakin keras menangis. Paman kemudian menggandeng tangan bibi dan berlari kearah tandu itu. Aku? Aku  ditinggal sendirian di belakang ambulan. Lagi.

***

Mobil mulai berjalan dan tanganku tetap diborgol. Mereka tampak waspada antara fokus ke jalanan dan mengamati gerak-gerikku. Mereka kira aku sebengis apa? Apakah mereka kira aku ini psikopat yang terobsesi gila-gilaan seperti di film-film itu? Aku menoleh ke jendela dan melihat beberapa kendaraan menyingkir karena mobil polisi –yang kutumpangi- sedang berteriak-teriak minta diberi jalan. Aku memutuskan untuk menyembunyikan mukaku dari jendela. Nafasku masih sesak, degup jantungku juga masih tak beraturan. Aku sungguh tak dapat melupakan bagaimana ekspresi muka gadis itu, gadis yang dilehernya tertancap sebuah gunting, gadis yang bersimbah darah dan matanya meneteskan air mata, gadis yang malang.

“uhm.. pak?..” aku sangat gelisah dan menjadi ragu bagaimana memanggil kedua polisi itu. Mendengar panggilanku, mereka menatap kekaca, namun hanya sekilas dan tak ada jawaban. “aku.. aku ingin menelpon.. bolehkah?”

Namun mereka tetap tak menjawab.

“pak? Pak.. polisi?..Hal..lo??.. ” ujarku ragu-ragu.

Mereka tetap saja kukuh berdiam diri. Aku melemparkan punggungku kesandaran kursi. Mereka jahat, dan tuli.

“Tuli ternyata.. tuli.. tuli.. tuliii.. banget” ucapku sambil menoleh kejendela.

Siapa sangka ucapanku yang terakhir ini malah membuat telinga mereka yang disfungsi menjadi berfungsi kembali?

“uhuk.. siapa bilang kau bisa berkata seenak jidatmu disini?” ujar salah seorang polisi, entah yang menyetir atau yang disebelah si penyetir. Yah, sudah terlambat, aku sudah tak ingin mengobrol dengan mereka yang membosankan dan tuli. Aku hanya melirik, kemudian kembali menatap jendela. Mereka juga diam. Suasana di dalam mobil ini semakin mati.

***


Selamat siang aku ucapkan kepada semua pembaca setiaku! Sekarang pukul 11.51 AM. Pada siang hari yang tak terlalu sejuk ini, aku memutuskan untuk membuka blog ku agar dapat berhubungan lagi dengan kalian semua yang kusayangi. Bagaimana komentar pembaca tentang SYMS (siapa yang membunuh siapa) part 3 yang baru kutulis ini? bagus kah? atau malah tambah membosankan? mohon beritahu aku agar aku dapat membuat cerita yang menghibur pembaca sekalian. tolong ya?

Jadi, setelah part 3 dirilis, aku yakin pembaca sudah mulai mengerti bagaimana plot cerita SYMS ini. SYMS ini termasuk cerita bergenre thriller dan mysteri (walau aku ingin menambahkan romance), serta beralur campuran. Aku minta maaf jika pembaca menemui kesulitan untuk mengerti jalan ceritanya saat membaca part 1.

Uhm, waktu ku tak banyak. Aku harus mengucapkan selamat tinggal. Bye-bye, jangan lupa saran dan kritiknya.

Salam hangat,

Yaseumin

Advertisements