Siapa yang Membunuh Siapa? Part-2

Aku menerima coklat pemberiannya dan memakannya pelan-pelan.

***

Aku menaiki pagar pembatas atap. Wah, berdiri diatas sini membuatku merasa sedang berada di tepi kematian. Bagaimana ini? Disini dingin sekali, angin berhembus kencang serasa akan mendorongku ke bawah. Aku baru berumur 13 tahun dan aku akan mati? Tidak! Aku tidak boleh mati sekarang. Tidak boleh!

***

Kami masih berpandangan, dan aku masih takut dengan tatapan matanya yang bengis. Aku kemudian melirik ayahku yang sekarang sudah terbaring tak bernafas. Mataku mulai berkaca-kaca.

“ayah…” ucapku lirih sambil menatap ayah, berusaha agar makhluk mempesona tak mendengarku.

“itu alasannya” ujar makhluk mempesona sambil menunjuk ayah. Aku melirik lagi dia dan mata kami bertemu lagi. Entah kenapa, ada sedikit rasa iba dimatanya. Mungkin karena melihatku menahan tangis. Ia mengarahkan senapan hitamnya kearahku. Aku terdiam. Tak tahu harus melakukan apa. Namun perkiraanku salah, dia tak ingin menembakku. Ia malah mengeluarkan satu peluru yang tersisa. Ia membungkuk berusaha menyamai tinggi badanku dan mengelus kepalaku lembut. Ia meraih tanganku, memberikan peluru, dan mengepalkan telapak tanganku agar peluru itu tak jatuh dari tanganku yang kecil. Aku ingin bertanya banyak hal padanya, namun ia langsung berkata, “jangan diambil hati, aku hanya melakukan tugasku. Karenanya, aku akan pergi sekarang. Ingatlah aku, aku akan mengingatmu”

Ia berdiri dan melangkah pergi, melangkahi ayah dengan tak sopan. Aku melihat punggungnya yang lebar itu, sepertinya punggungnya akan terasa hangat, sehangat peluru yang sedang ku genggam. Melihat siluetnya yang semakin jauh, aku merasa sedih, mengingat aku ditinggalkan disini sendirian. Aku menangis keras, sekeras-kerasnya, berusaha menahan kepergian makhluk mempesona, namun tidak. Dia tidak kembali.

***

Aku turun dari pagar pembatas. Kemudian berusaha memikirkan cara lain agar bisa keluar dari atap ini tanpa tertangkap. Aku masih mendengar beberapa orang di belakang pintu atap sedang meneriaki namaku, memintaku untuk membukakan pintu.  Aku kemudian tersentak. Ah, bodohnya aku. Aku baru ingat bahwa ada dua pintu untuk menuju keatap dan aku hanya mengunci satu pintu yang sebelah kiri. Aku berlari menuju pintu yang sebelah kanan yang berjarak cukup jauh dariku. Sedikit lagi aku bisa menggapai pintu itu, namun aku terlambat. Aku cepat, tapi tak cukup cepat. Pintu itu sudah dibuka, bukan olehku, melainkan oleh seorang pria berseragam formal. Aku terkejut sekaligus panik karena hal tak berjalan sesuai rencanaku. Aku langsung berbalik arah lari, berusaha nekat untuk terjun saja.

***

“Kau baik-baik saja?”

Seseorang membuyarkan lamunanku. Aku ingin mendongak keatas, mencari sumber suara berat tadi, namun aku terlalu capek untuk  melakukan itu. Beberapa detik kemudian, seseorang berjongkok didepan aku yang sedang duduk di belakang ambulan, seperti yang makhluk mempesona lakukan tadi. Ia menatapku dengan tatapan kasihan.

“Nak, kamu baik-baik saja?” ucapnya.

Oh, dia rupanya yang menanyakan kabarku tadi! Dia adalah seorang pria dewasa yang memakai seragam medis. Banyak orang lalu-lalang disini dan memakai seragam yang sama seperti dia, namun ternyata hanya dia yang peduli padaku.

“Nak, kau bisa mendengarku?” tanyanya lagi.

Ya, tentu saja aku bisa mendengarnya. Bahkan aku dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi aku terlalu capek untuk menjawab. Energi-ku sudah terserap habis rasanya, sehingga aku hanya dapat menatap kedua matanya yang tak seindah makhluk mempesona.

“Nak? Apakah kau terluka atau semacamnya?”

Ya, aku terluka. Terluka melihat kematian ayahku yang kulihat sendiri oleh mataku. Mengapa dia masih bertanya hal yang jelas-jelas sudah ia ketahui?

“Nak? Hey, nak?” Ia menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajahku. Aku tak menghiraukannya. Kemudian, ia melihat ke kiri-kanannya, tampak mencari-cari seseorang. Ia beranjak berdiri dan berjalan pergi entah kemana, sebelumnya ia sempat berkata bahwa ia akan segera kembali. Pandanganku mengikuti langkahnya, aku melihat punggungnya mulai menjauh dan kemudian menghilang dibalik sebuah mobil polisi yang meneriakkan sirene dan memutarkan lampu biru-merah. Aku mulai gelisah lagi, merasa bahwa aku sekali lagi ditinggalkan sendirian tanpa ada satu orangpun yang peduli padaku. Hatiku merasa lega melihat pria berseragam medis bersuara berat tadi kembali  berjalan kearahku sambil tersenyum padaku. Wah! Senyumannya! Senyuman terindah yang pernah kulihat.

“Nak, aku kembali. Kau merindukanku kah?” tanyanya dengan nada gembira. Kami berpandangan sesaat, dan aku dapat melihat tatapan kasih dimatanya. Ia memberikanku satu coklat batangan, “kau tahu? Coklat dapat membuatmu nyaman. Makanlah”.

Aku menerima coklat pemberiannya dan memakannya pelan-pelan. Satu gigitan pertama terasa sangat enak, rasanya seperti segala kekhawatiran dan ketakutanku perlahan lenyap. Baik sekali orang itu. Ia datang padaku disaat tak ada seorangpun yang menyadari kehadiranku. Ia menanyakan kabarku disaat tak ada seorangpun yang peduli. Ia juga memberikanku coklat bahkan membantu membukakan bungkusnya disaat tak ada seorangpun yang mau memikirkan betapa ketakutannya aku.

Aku menatap kedua matanya. Ia tersenyum padaku. Oh, senyumannya amat menenangkan. Apakah dia malaikat?

***


Part-2 nya sudah kurilis. Yeay!! sejujurnya, aku membuat cerpen part-2 ini saat sedang ujian IPA. Cukup nekat, memang, namun tak apalah. Toh waktu itu aku sudah selesai mengerjakan ujiannya.

Baiklah, hari ini aku memiliki banyak waktu untuk membuka blog ini. Karenanya, aku berusaha meluangkan waktu untuk mengepost banyak post sebanyak-banyaknya. Selamat membaca ^^

Advertisements

About Yaseumin

Aku kurang dari nol yang berarti imaginer. Aku suka menulis dan aku berharap tidak ada language barrier diantara kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: