Siapa yang Membunuh Siapa? Part-1

Matanya yang mempesona berubah menjadi mata yang bengis, aku takut.

***

Tanganku berdarah, oh benar, tanganku dipenuhi darah segar berwarna merah pekat. Ubin yang tadinya putih kini sewarna dengan tanganku. Bau amis yang tak asing mulai menyebar ke segala sudut ruangan. Matanya! Matanya yang indah itu! Matanya yang sedari dulu hingga kini masih begitu menawan! Mata itu memandangiku, memelototiku, fokus tepat mengarah ke kedua bola mataku yang tak seindah miliknya. Aku tak yakin bagaimana ekspresi mukaku di matanya, namun satu hal yang pasti, aku tahu dia menangis.

Oh? Seseorang membuka pintu! Membiarkan cahaya matahari yang menyilaukan membakar tubuhku dan tubuhnya. Siapakah yang membawa matahari datang? Seorang perempuan yang sedikit pendek, sepertinya, aku tidak terlalu peduli. Matanya tidak indah. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya juga melebar. Lambat tapi pasti, Ia mengambil langkah mundur.

***

“Dimanakah kalian? Dimanakah ibu dan ayah?”

Suara keras yang amat keras baru saja berbunyi, dua atau tiga kali. Untungnya tak memekakkan kedua telingaku. Hening. Rumah ini hening seperti segala tanda-tanda kehidupan baru saja diserap oleh sesuatu yang asing. Bibirku masih saja menyunggingkan senyum, masih senang dengan buku baru hadiah ulangtahunku yang ke-sembilan.

Aku menghentikan langkahku. Makhluk berbaju hitam berdiri di tengah-tengah koridor rumah. Oh, dia makhluk yang sama sepertiku. Dua mata, dua lubang hidung, namun aku tak dapat melihat bibirnya. Masker kah itu yang ia kenakan? Sayang sekali, aku bisa jamin bibirnya akan menawan, karena kedua matanya sangat mempesona, mungkin, hanya bagiku yang baru saja berumur sembilan tahun.

Makhluk dengan mata mempesona itu mulai berjalan kearahku. Setiap langkah menghasilkan bau yang belum pernah ku cium. Semakin dekat ia denganku, semakin pekat bau “baru” itu. Baru kusadari, ia juga memakai sarung tangan berwarna senada dengan maskernya, hitam, lebih hitam dari langit malam, lebih hitam dari senapan yang berada di genggamannya. Sampailah ia dihadapanku, ia memegang bahuku dan berlutut, berusaha menyamai tinggi badanku yang jauh berbeda dengan dirinya. Aku tahu ia kemudian sedang tersenyum kepadaku, walaupun bibirnya tak dapat kulihat.

“Maaf..” ucapnya pelan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Jangan dekati dia!” aku terkejut mendengar teriakan barusan, yang ternyata adalah teriakan ayahku sendiri. Ayah berusaha bergerak mendekati kami berdua walau badannya bersimbah darah.

Tanpa disuruh, makhluk mempesona itu langsung mengambil senapannya dan menembaki ayah tanpa ragu, menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Aku tidak tahu apakah aku berteriak saat itu, tapi yang jelas, aku tidak menutup mataku. Ayah tergeletak tak berdaya di lantai. Matanya terpejam. Aku langsung melirik kepada makhluk mempesona itu, kami berpandangan beberapa detik, dan aku menyadari bahwa matanya yang mempesona itu berubah menjadi mata yang bengis. Aku takut.

***

Aku melirik dia yang sekarang tergeletak kaku di lantai beralaskan darah, matanya terpejam, sama seperti ayahku lima tahun yang lalu. Aku berusaha mendekati raganya. Hal yang paling kutakuti dan tak ingin kualami lagi adalah melihat seseorang meninggal tepat di depan mataku. Namun sayang, yang terjadi adalah sebaliknya.

“Letakkan gunting itu sekarang!” aku terkejut. Seseorang dengan suara yang berat, yang ternyata adalah guruku, berusaha mendekatiku perlahan. Ternyata, sudah banyak orang berkumpul di ambang pintu untuk menyaksikan adegan abstrak ini, mereka memandangku dengan tatapan yang tak aku sukai.

“Jangan mendekat!” teriakku melengking, membuat kerumunan menjadi hening, namun orang itu tak mengindahkan kata-kataku. Saat dia berusaha merebut gunting digenggamanku secara tiba-tiba, aku memekik tertahan, aku tak sengaja melukai tangannya. Darah mulai mengucur dari telapak tangannya. Aku melarikan diri dari sana melewati kerumunan itu. Tanpa disuruh, mereka langsung memberikan jalan bagiku seperti penggemar yang menyambut idola mereka di bandara, membiarkanku lewat tanpa hambatan.

Aku langsung menaiki tangga terdekat menuju atap sekolah, kemudian mengunci pintunya. Aku dapat mendengar orang-orang yang mengejarku sedang berusaha mendobrak pintu atap sambil dengan bodohnya berteriak memohon diriku untuk membuka pintu. Di sini sangat berangin, terlalu berangin sampai aku merasa rambutku mau terbang dari kulit kepalaku. Aku ke pinggir atap dan melihat ke bawah, lantai satu terlihat sangat jauh.

Bukan! Aku bukan pembunuh! Ini semua salah paham, bukan? Kejadian barusan terjadi sangat cepat, terlalu cepat bahkan bagiku untuk mengingat rincian kejadian ini. Siapa yang membunuh siapa? Aku tak tahu kenapa gunting itu bisa menancap di lehernya, dan aku bahkan tak tahu gunting milik siapakah itu.

Haruskah aku mengambil jalan pintas dengan terjun dari atap lantai 4 ini? Mati atau tidak, aku tetap akan dijuluki sebagai pembunuh. Kalau aku terjun, aku akan dikabarkan sebagai seorang pembunuh yang bunuh diri, ah, mengenaskan sekali. Namun kalau aku menyerahkan diriku, aku akan dikabarkan sebagai seorang pembunuh yang membunuh menggunakan gunting, ah, sadis sekali. Pintu atap sebentar lagi akan berhasil mereka buka, jalan manakah yang harus kupilih?

***


Halo, para pembaca setiaku. Kita berjumpa lagi di blog-ku yang sesuatu ini. Aku meminta maaf sebesar-besarnya karena tak dapat aktif menulis. Yah, apa boleh buat? Aku tak ada waktu untuk membuka blog.

Kali ini, aku mengepost sebuah cerpen bersambung. Cerpen ini pertama kali dibuat untuk lomba jurnalistik di sekolahku. Jadi karena pondasi cerita awal nya bagus, aku memutuskan untuk melanjutkan cerpen ini.

Selamat membaca, pembaca setiaku.. jangan lupa comment serta kritik dan sarannya. Sampai jumpa ^^

Salam Hangat,

Yaseumin.

Advertisements

About Yaseumin

Aku kurang dari nol yang berarti imaginer. Aku suka menulis dan aku berharap tidak ada language barrier diantara kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: