Archive | October 2014

Stop-motion Versi Pemula

Halo pembaca, kita berjumpa lagi..

Kali ini, aku akan mengepost tentang cara membuat stop-motion versi pemula.

Kenapa aku tiba-tiba mengepost tentang stop motion? apakah para pembaca penasaran? alasannya karena beberapa waktu yang lalu, disekolahku ada tugas tentang procedure text, yaitu sebuah teks yang menjelaskan bagaimana cara melakukan sesuatu. Kelompokku memutuskan untuk membuat stop-motion. Awalnya aku juga mengira stop motion itu sulit untuk dibuat. Padahal, sebenarnya sangat mudah dan singkat cara membuatnya. Hanya dibutuhkan kamera, laptop + aplikasi video maker, dan ide.

Contohnya, aku akan membuat sebuah stop-motion tentang beberapa alat tulis yang bergerak menuju kotak pensil.

Barang yang dibutuhkan: Kamera, laptop, niat dari hati, beberapa alat tulis, kotak pensil, meja

Tahap pembuatan:

1. susun beberapa alat tulis dan kotak pensil diatas meja

2. gerakkan beberapa alat tulis tadi sedikiiiit saja, kemudian jepret menggunakan kamera.

3. gerakkan lagi alat tulis itu sedikiiiit lagi, dan kemudian jepret lagi.

4. lakukan ini berulang-ulang sampai alat-alat tulis masuk kedalam kotak pensil.

5. tutup retsleting kotak pensil sedikit demi sedikit sambil difoto. caranya, tutup sedikit, kemudian jepret, tutup sedikit lagi, kemudian jepret lagi, tutup lagi, jepret lagi. Lakukan ini terus sampai kotak pensilnya tertutup semua.

6. sesi pemotretan selesai.

7. gabungkan seluruh foto yang telah dijepret dengan menggunakan aplikasi video maker (boleh menggunakan photoscape, boleh menggunakan windows video maker atau aplikasi lainnya)

8. anggap saja kita menggunakan windows video maker. masuk ke aplikasi itu dan masukkan seluruh foto tadi.

9. atur kecepatan yang diinginkan (kira-kira 0,25 sekon)

10. Untuk tambahan, kita bisa memasukkan musik sebagai pengiring. kita juga bisa memberikan judul, subtitle, kata-kata keterangan, serta credit.

11. simpan video itu di folder yang kita inginkan.

12. stop-motion selesai ^^ mudah kan?

(N.B jika menggunakan photoscape, video nya nanti akan menjadi .gif, bukan .mp4. kita harus mengubah .gif menjadi .mp4 dengan menggunakan aplikasi extention changer agar dapat mengedit videonya)

Nah, ini lah contoh video stop-motion yang telah aku dan teman-temanku buat.

stop-motion ini dibuat oleh temanku Cynthia Wiranda, Debora, Larosa, dan aku, Yasmine Helga ^^

Stop-motion ini dibuat oleh temanku Cynthia Wiranda, Debora, Larosa, dan aku, Yasmine Helga ^^


Sekian postku hari ini.. jangan lupa comment ya ^^

Sampai jumpa, pembaca setiaku..

Advertisements

Siapa yang Membunuh Siapa? Part-2

Aku menerima coklat pemberiannya dan memakannya pelan-pelan.

***

Aku menaiki pagar pembatas atap. Wah, berdiri diatas sini membuatku merasa sedang berada di tepi kematian. Bagaimana ini? Disini dingin sekali, angin berhembus kencang serasa akan mendorongku ke bawah. Aku baru berumur 13 tahun dan aku akan mati? Tidak! Aku tidak boleh mati sekarang. Tidak boleh!

***

Kami masih berpandangan, dan aku masih takut dengan tatapan matanya yang bengis. Aku kemudian melirik ayahku yang sekarang sudah terbaring tak bernafas. Mataku mulai berkaca-kaca.

“ayah…” ucapku lirih sambil menatap ayah, berusaha agar makhluk mempesona tak mendengarku.

“itu alasannya” ujar makhluk mempesona sambil menunjuk ayah. Aku melirik lagi dia dan mata kami bertemu lagi. Entah kenapa, ada sedikit rasa iba dimatanya. Mungkin karena melihatku menahan tangis. Ia mengarahkan senapan hitamnya kearahku. Aku terdiam. Tak tahu harus melakukan apa. Namun perkiraanku salah, dia tak ingin menembakku. Ia malah mengeluarkan satu peluru yang tersisa. Ia membungkuk berusaha menyamai tinggi badanku dan mengelus kepalaku lembut. Ia meraih tanganku, memberikan peluru, dan mengepalkan telapak tanganku agar peluru itu tak jatuh dari tanganku yang kecil. Aku ingin bertanya banyak hal padanya, namun ia langsung berkata, “jangan diambil hati, aku hanya melakukan tugasku. Karenanya, aku akan pergi sekarang. Ingatlah aku, aku akan mengingatmu”

Ia berdiri dan melangkah pergi, melangkahi ayah dengan tak sopan. Aku melihat punggungnya yang lebar itu, sepertinya punggungnya akan terasa hangat, sehangat peluru yang sedang ku genggam. Melihat siluetnya yang semakin jauh, aku merasa sedih, mengingat aku ditinggalkan disini sendirian. Aku menangis keras, sekeras-kerasnya, berusaha menahan kepergian makhluk mempesona, namun tidak. Dia tidak kembali.

***

Aku turun dari pagar pembatas. Kemudian berusaha memikirkan cara lain agar bisa keluar dari atap ini tanpa tertangkap. Aku masih mendengar beberapa orang di belakang pintu atap sedang meneriaki namaku, memintaku untuk membukakan pintu.  Aku kemudian tersentak. Ah, bodohnya aku. Aku baru ingat bahwa ada dua pintu untuk menuju keatap dan aku hanya mengunci satu pintu yang sebelah kiri. Aku berlari menuju pintu yang sebelah kanan yang berjarak cukup jauh dariku. Sedikit lagi aku bisa menggapai pintu itu, namun aku terlambat. Aku cepat, tapi tak cukup cepat. Pintu itu sudah dibuka, bukan olehku, melainkan oleh seorang pria berseragam formal. Aku terkejut sekaligus panik karena hal tak berjalan sesuai rencanaku. Aku langsung berbalik arah lari, berusaha nekat untuk terjun saja.

***

“Kau baik-baik saja?”

Seseorang membuyarkan lamunanku. Aku ingin mendongak keatas, mencari sumber suara berat tadi, namun aku terlalu capek untuk  melakukan itu. Beberapa detik kemudian, seseorang berjongkok didepan aku yang sedang duduk di belakang ambulan, seperti yang makhluk mempesona lakukan tadi. Ia menatapku dengan tatapan kasihan.

“Nak, kamu baik-baik saja?” ucapnya.

Oh, dia rupanya yang menanyakan kabarku tadi! Dia adalah seorang pria dewasa yang memakai seragam medis. Banyak orang lalu-lalang disini dan memakai seragam yang sama seperti dia, namun ternyata hanya dia yang peduli padaku.

“Nak, kau bisa mendengarku?” tanyanya lagi.

Ya, tentu saja aku bisa mendengarnya. Bahkan aku dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi aku terlalu capek untuk menjawab. Energi-ku sudah terserap habis rasanya, sehingga aku hanya dapat menatap kedua matanya yang tak seindah makhluk mempesona.

“Nak? Apakah kau terluka atau semacamnya?”

Ya, aku terluka. Terluka melihat kematian ayahku yang kulihat sendiri oleh mataku. Mengapa dia masih bertanya hal yang jelas-jelas sudah ia ketahui?

“Nak? Hey, nak?” Ia menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajahku. Aku tak menghiraukannya. Kemudian, ia melihat ke kiri-kanannya, tampak mencari-cari seseorang. Ia beranjak berdiri dan berjalan pergi entah kemana, sebelumnya ia sempat berkata bahwa ia akan segera kembali. Pandanganku mengikuti langkahnya, aku melihat punggungnya mulai menjauh dan kemudian menghilang dibalik sebuah mobil polisi yang meneriakkan sirene dan memutarkan lampu biru-merah. Aku mulai gelisah lagi, merasa bahwa aku sekali lagi ditinggalkan sendirian tanpa ada satu orangpun yang peduli padaku. Hatiku merasa lega melihat pria berseragam medis bersuara berat tadi kembali  berjalan kearahku sambil tersenyum padaku. Wah! Senyumannya! Senyuman terindah yang pernah kulihat.

“Nak, aku kembali. Kau merindukanku kah?” tanyanya dengan nada gembira. Kami berpandangan sesaat, dan aku dapat melihat tatapan kasih dimatanya. Ia memberikanku satu coklat batangan, “kau tahu? Coklat dapat membuatmu nyaman. Makanlah”.

Aku menerima coklat pemberiannya dan memakannya pelan-pelan. Satu gigitan pertama terasa sangat enak, rasanya seperti segala kekhawatiran dan ketakutanku perlahan lenyap. Baik sekali orang itu. Ia datang padaku disaat tak ada seorangpun yang menyadari kehadiranku. Ia menanyakan kabarku disaat tak ada seorangpun yang peduli. Ia juga memberikanku coklat bahkan membantu membukakan bungkusnya disaat tak ada seorangpun yang mau memikirkan betapa ketakutannya aku.

Aku menatap kedua matanya. Ia tersenyum padaku. Oh, senyumannya amat menenangkan. Apakah dia malaikat?

***


Part-2 nya sudah kurilis. Yeay!! sejujurnya, aku membuat cerpen part-2 ini saat sedang ujian IPA. Cukup nekat, memang, namun tak apalah. Toh waktu itu aku sudah selesai mengerjakan ujiannya.

Baiklah, hari ini aku memiliki banyak waktu untuk membuka blog ini. Karenanya, aku berusaha meluangkan waktu untuk mengepost banyak post sebanyak-banyaknya. Selamat membaca ^^

Siapa yang Membunuh Siapa? Part-1

Matanya yang mempesona berubah menjadi mata yang bengis, aku takut.

***

Tanganku berdarah, oh benar, tanganku dipenuhi darah segar berwarna merah pekat. Ubin yang tadinya putih kini sewarna dengan tanganku. Bau amis yang tak asing mulai menyebar ke segala sudut ruangan. Matanya! Matanya yang indah itu! Matanya yang sedari dulu hingga kini masih begitu menawan! Mata itu memandangiku, memelototiku, fokus tepat mengarah ke kedua bola mataku yang tak seindah miliknya. Aku tak yakin bagaimana ekspresi mukaku di matanya, namun satu hal yang pasti, aku tahu dia menangis.

Oh? Seseorang membuka pintu! Membiarkan cahaya matahari yang menyilaukan membakar tubuhku dan tubuhnya. Siapakah yang membawa matahari datang? Seorang perempuan yang sedikit pendek, sepertinya, aku tidak terlalu peduli. Matanya tidak indah. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya juga melebar. Lambat tapi pasti, Ia mengambil langkah mundur.

***

“Dimanakah kalian? Dimanakah ibu dan ayah?”

Suara keras yang amat keras baru saja berbunyi, dua atau tiga kali. Untungnya tak memekakkan kedua telingaku. Hening. Rumah ini hening seperti segala tanda-tanda kehidupan baru saja diserap oleh sesuatu yang asing. Bibirku masih saja menyunggingkan senyum, masih senang dengan buku baru hadiah ulangtahunku yang ke-sembilan.

Aku menghentikan langkahku. Makhluk berbaju hitam berdiri di tengah-tengah koridor rumah. Oh, dia makhluk yang sama sepertiku. Dua mata, dua lubang hidung, namun aku tak dapat melihat bibirnya. Masker kah itu yang ia kenakan? Sayang sekali, aku bisa jamin bibirnya akan menawan, karena kedua matanya sangat mempesona, mungkin, hanya bagiku yang baru saja berumur sembilan tahun.

Makhluk dengan mata mempesona itu mulai berjalan kearahku. Setiap langkah menghasilkan bau yang belum pernah ku cium. Semakin dekat ia denganku, semakin pekat bau “baru” itu. Baru kusadari, ia juga memakai sarung tangan berwarna senada dengan maskernya, hitam, lebih hitam dari langit malam, lebih hitam dari senapan yang berada di genggamannya. Sampailah ia dihadapanku, ia memegang bahuku dan berlutut, berusaha menyamai tinggi badanku yang jauh berbeda dengan dirinya. Aku tahu ia kemudian sedang tersenyum kepadaku, walaupun bibirnya tak dapat kulihat.

“Maaf..” ucapnya pelan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Jangan dekati dia!” aku terkejut mendengar teriakan barusan, yang ternyata adalah teriakan ayahku sendiri. Ayah berusaha bergerak mendekati kami berdua walau badannya bersimbah darah.

Tanpa disuruh, makhluk mempesona itu langsung mengambil senapannya dan menembaki ayah tanpa ragu, menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Aku tidak tahu apakah aku berteriak saat itu, tapi yang jelas, aku tidak menutup mataku. Ayah tergeletak tak berdaya di lantai. Matanya terpejam. Aku langsung melirik kepada makhluk mempesona itu, kami berpandangan beberapa detik, dan aku menyadari bahwa matanya yang mempesona itu berubah menjadi mata yang bengis. Aku takut.

***

Aku melirik dia yang sekarang tergeletak kaku di lantai beralaskan darah, matanya terpejam, sama seperti ayahku lima tahun yang lalu. Aku berusaha mendekati raganya. Hal yang paling kutakuti dan tak ingin kualami lagi adalah melihat seseorang meninggal tepat di depan mataku. Namun sayang, yang terjadi adalah sebaliknya.

“Letakkan gunting itu sekarang!” aku terkejut. Seseorang dengan suara yang berat, yang ternyata adalah guruku, berusaha mendekatiku perlahan. Ternyata, sudah banyak orang berkumpul di ambang pintu untuk menyaksikan adegan abstrak ini, mereka memandangku dengan tatapan yang tak aku sukai.

“Jangan mendekat!” teriakku melengking, membuat kerumunan menjadi hening, namun orang itu tak mengindahkan kata-kataku. Saat dia berusaha merebut gunting digenggamanku secara tiba-tiba, aku memekik tertahan, aku tak sengaja melukai tangannya. Darah mulai mengucur dari telapak tangannya. Aku melarikan diri dari sana melewati kerumunan itu. Tanpa disuruh, mereka langsung memberikan jalan bagiku seperti penggemar yang menyambut idola mereka di bandara, membiarkanku lewat tanpa hambatan.

Aku langsung menaiki tangga terdekat menuju atap sekolah, kemudian mengunci pintunya. Aku dapat mendengar orang-orang yang mengejarku sedang berusaha mendobrak pintu atap sambil dengan bodohnya berteriak memohon diriku untuk membuka pintu. Di sini sangat berangin, terlalu berangin sampai aku merasa rambutku mau terbang dari kulit kepalaku. Aku ke pinggir atap dan melihat ke bawah, lantai satu terlihat sangat jauh.

Bukan! Aku bukan pembunuh! Ini semua salah paham, bukan? Kejadian barusan terjadi sangat cepat, terlalu cepat bahkan bagiku untuk mengingat rincian kejadian ini. Siapa yang membunuh siapa? Aku tak tahu kenapa gunting itu bisa menancap di lehernya, dan aku bahkan tak tahu gunting milik siapakah itu.

Haruskah aku mengambil jalan pintas dengan terjun dari atap lantai 4 ini? Mati atau tidak, aku tetap akan dijuluki sebagai pembunuh. Kalau aku terjun, aku akan dikabarkan sebagai seorang pembunuh yang bunuh diri, ah, mengenaskan sekali. Namun kalau aku menyerahkan diriku, aku akan dikabarkan sebagai seorang pembunuh yang membunuh menggunakan gunting, ah, sadis sekali. Pintu atap sebentar lagi akan berhasil mereka buka, jalan manakah yang harus kupilih?

***


Halo, para pembaca setiaku. Kita berjumpa lagi di blog-ku yang sesuatu ini. Aku meminta maaf sebesar-besarnya karena tak dapat aktif menulis. Yah, apa boleh buat? Aku tak ada waktu untuk membuka blog.

Kali ini, aku mengepost sebuah cerpen bersambung. Cerpen ini pertama kali dibuat untuk lomba jurnalistik di sekolahku. Jadi karena pondasi cerita awal nya bagus, aku memutuskan untuk melanjutkan cerpen ini.

Selamat membaca, pembaca setiaku.. jangan lupa comment serta kritik dan sarannya. Sampai jumpa ^^

Salam Hangat,

Yaseumin.